resume pkkmb day 2 dhaawii ghathfan fayadh

 RESUME PKKMB DAY 2




NAMA: DHAAWII GHATHFAN FAYADH

PRODI: S1 KEPERAWATAN



1. MATERI PERTAMA 

Materi I

Ainun Najib

Ahli IT Indonesia

Tema:

Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri

🌍 ERA AI DAN TANTANGAN KEMANUSIAAN: SEBUAH TINJAUAN KRITIS

Pendahuluan

Sejarah peradaban manusia selalu ditandai oleh revolusi besar yang mengubah pola hidup, cara bekerja, dan cara berinteraksi. Revolusi industri pertama muncul dengan mesin uap, kedua dengan listrik, ketiga dengan komputer, dan keempat dengan internet serta otomasi. Saat ini, kita berada di ambang revolusi industri kelima yang ditandai oleh Artificial Intelligence (AI).

Perubahan ini bukan sekadar teknis, melainkan pergeseran paradigma. AI tidak hanya mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga berpotensi mengambil alih sebagian besar profesi yang dulu dianggap aman. Pertanyaan mendasarnya: apa yang tersisa untuk manusia?


Perkembangan AI: Dari Narrow ke Generative

Pada tahun 2018, Kai-Fu Lee dalam bukunya AI Superpowers menggambarkan kuadran pekerjaan yang rentan digantikan AI. Saat itu AI masih bersifat narrow, hanya mampu mengerjakan tugas spesifik: rekomendasi video YouTube, navigasi Google Maps, atau optimasi belanja daring.

Namun, hanya tujuh tahun kemudian, AI melesat ke level yang tidak terbayangkan: Generative AI. Kini, mesin dapat membuat teks, gambar, musik, bahkan kode pemrograman seolah dikerjakan oleh manusia.

Fenomena ini seolah mengonfirmasi prediksi Kai-Fu Lee: hampir semua pekerjaan dapat diotomasi, kecuali dua ranah: kreativitas dan rasa kemanusiaan.


Kreativitas: Ruang yang Tidak Tergantikan

AI bekerja dengan prinsip machine learning: mempelajari data yang sudah ada. Artinya, ia tidak benar-benar “menciptakan” hal baru, melainkan menggabungkan pola-pola lama.

Manusia, sebaliknya, mampu menghadirkan kreativitas sejati:

  1. Kemampuan melompat keluar data.
    Misalnya, Einstein menemukan teori relativitas bukan dari kumpulan data eksperimen biasa, melainkan dari imajinasi: “Bagaimana jika saya menunggangi cahaya?”

  2. Inovasi lintas-disiplin.
    Penemuan internet, misalnya, bukan sekadar hasil riset komputer, tetapi gabungan telekomunikasi, matematika, dan visi sosial.

  3. Inspirasi transendental.
    Dalam perspektif keagamaan, ada keyakinan bahwa ilmu dan ide kadang hadir sebagai ilham langsung dari Tuhan. Sesuatu yang tidak pernah bisa dihasilkan oleh algoritma.

AI dapat meniru gaya melukis Van Gogh, tetapi hanya manusia yang mampu menciptakan aliran seni baru.


Rasa Kemanusiaan: Empati dan Compassion

Kecanggihan AI kadang menipu: chatbot bisa terdengar sopan, suara sintetis bisa terdengar ramah. Namun, itu hanya imitasi, bukan empati sejati.

Perbandingan sederhana:

  • AI bisa mengatakan “Saya mengerti perasaan Anda” dengan kalimat yang meyakinkan.

  • Tetapi AI tidak merasakan perasaan itu.

Di sinilah letak perbedaan mendasar. Empati adalah pengalaman emosional, bukan sekadar pola bahasa. Seperti senyum palsu yang tidak menggerakkan otot mata, empati palsu pun bisa terdeteksi pada akhirnya.

Contoh bidang yang sangat membutuhkan empati:

  • Kesehatan: pasien lebih cepat pulih ketika merasa diperhatikan, bukan sekadar diberi obat yang tepat.

  • Pendidikan: siswa lebih termotivasi ketika gurunya memahami kesulitan, bukan sekadar memberi materi.

  • Kepemimpinan: masyarakat lebih percaya pada pemimpin yang tulus mendengar, bukan hanya berbicara manis.


Peta Pekerjaan di Era AI (Kuadran Kai-Fu Lee)

  1. Kiri bawah: rendah kreativitas, rendah empati → otomatisasi penuh.
    Contoh: logistik, administrasi, warehouse Amazon.

  2. Kiri atas: rendah kreativitas, tinggi empati.
    Contoh: kesehatan, pendidikan. AI mendukung, manusia tetap sentral.

  3. Kanan bawah: tinggi kreativitas, rendah empati.
    Contoh: peneliti, desainer, penulis skenario.

  4. Kanan atas: tinggi kreativitas, tinggi empati.
    Contoh: seniman, inovator sosial, pemimpin visioner.
    → Inilah ranah paling aman dari gempuran AI.


Implikasi bagi Pendidikan Tinggi

Mahasiswa tidak cukup hanya melek teknologi, tetapi harus melek kemanusiaan. Beberapa strategi yang relevan:

  1. Mengasah critical & creative thinking.
    Diskusi, debat, riset kolaboratif, dan proyek lintas disiplin harus diperkuat.

  2. Membangun empati melalui pengalaman nyata.
    Program pengabdian masyarakat, kerja sosial, magang lapangan memperkuat aspek humanis.

  3. Menerapkan hybrid learning.
    AI dipakai untuk personalisasi pembelajaran (contoh: Khan Academy dengan OpenAI), tetapi pendampingan dosen tetap tak tergantikan.

  4. Lifelong learning.
    Dunia kerja akan terus berubah, sehingga belajar tidak boleh berhenti di bangku kuliah.


Contoh Kasus Aktual

  1. Amazon Warehouse: sudah sepenuhnya dikelola robot. Pekerjaan manusia di bidang itu lenyap.

  2. Self-driving Truck di Singapura: distribusi logistik tanpa sopir mulai diuji coba.

  3. Uber tanpa pengemudi di AS: transportasi publik otomatis sudah hadir, hanya menunggu waktu menyebar.

  4. Khan Academy x OpenAI: AI digunakan untuk memahami progres siswa dan memberi materi sesuai kebutuhan. Namun, guru tetap berperan sebagai mentor.


Refleksi Etis dan Spiritualitas

Dari perspektif filsafat dan agama, manusia memiliki sesuatu yang tidak bisa diduplikasi oleh algoritma: ruh, hati nurani, dan nilai moral.

AI dapat meniru perilaku baik, tetapi tidak bisa memaknai kebaikan. Tanpa kesadaran ini, masyarakat bisa terjebak: menganggap mesin lebih manusiawi daripada manusia. Padahal yang terjadi hanyalah ilusi.

Karenanya, pengembangan AI harus dibarengi dengan etika, regulasi, dan kesadaran spiritual.


Kesimpulan

Era AI adalah pisau bermata dua. Ia bisa membawa efisiensi luar biasa, tetapi juga ancaman penghapusan jutaan pekerjaan. Generasi muda harus bersiap bukan dengan melawan AI, melainkan dengan berdiri di atasnya:

  • Menjadi kreatif, bukan sekadar repetitif.

  • Menjadi penuh empati, bukan sekadar imitasi.

  • Menggabungkan teknologi dengan nilai kemanusiaan.

Mereka yang berhasil menguasai dua hal ini akan tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan, di tengah dunia yang kian dikuasai mesin.



2. MATERI KEDUA

Materi II

Alur Penggunaan dan Pelayanan di Perpustakaan


Alur Penggunaan dan Pelayanan di Perpustakaan UNUSA

Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) berperan sebagai pusat informasi, pembelajaran, dan penelitian yang mendukung seluruh kegiatan akademik. Kehadiran perpustakaan tidak sekadar tempat meminjam buku, tetapi menjadi ruang literasi, kolaborasi, serta pengembangan keterampilan mahasiswa agar mampu bersaing di era digital.

Agar layanan dapat dimanfaatkan secara maksimal, perpustakaan UNUSA memiliki alur penggunaan yang jelas dan terstruktur. Berikut penjelasan rinci tahap demi tahap:


1. Registrasi Anggota dan Akses Awal

  • Mahasiswa baru otomatis terdaftar sebagai anggota setelah melakukan registrasi akademik. Data mahasiswa terintegrasi dengan sistem perpustakaan.

  • Dosen dan tenaga kependidikan juga dapat menjadi anggota dengan mengisi formulir pendaftaran.

  • Anggota memperoleh ID anggota/kartu mahasiswa yang berfungsi sebagai identitas untuk meminjam dan mengakses koleksi.

  • Bagi pengguna tamu, tersedia izin akses terbatas dengan prosedur tertentu.


2. Tata Tertib Masuk Perpustakaan

  • Sebelum masuk ruang perpustakaan, pengunjung diminta mengisi absensi elektronik atau men-scan kartu anggota.

  • Barang bawaan seperti tas besar biasanya ditempatkan di loker yang telah disediakan.

  • Peraturan umum meliputi: menjaga ketenangan, tidak merusak koleksi, menjaga kebersihan, serta tidak membawa makanan dan minuman ke ruang baca.


3. Pencarian Koleksi Informasi

  • Perpustakaan menyediakan OPAC (Online Public Access Catalog) sebagai alat pencarian.

  • Koleksi dapat ditelusuri berdasarkan: judul, nama penulis, subjek/topik, atau kata kunci.

  • Jenis koleksi yang tersedia antara lain:

    • Buku teks dan referensi akademik.

    • Jurnal ilmiah cetak maupun elektronik.

    • Skripsi, tesis, dan karya ilmiah civitas UNUSA.

    • Koleksi digital seperti e-book, e-journal, dan database internasional.

  • Pustakawan juga menyediakan bantuan pencarian manual bagi mahasiswa yang belum terbiasa menggunakan OPAC.


4. Layanan Sirkulasi (Peminjaman, Perpanjangan, dan Pengembalian)

  • Peminjaman: Mahasiswa dapat meminjam sejumlah buku sesuai ketentuan (misalnya 2–3 eksemplar selama 1–2 minggu).

  • Perpanjangan: Dapat dilakukan jika buku belum dipesan oleh pengguna lain. Umumnya bisa diperpanjang secara langsung di meja sirkulasi atau melalui sistem online.

  • Pengembalian: Buku dikembalikan ke petugas, kemudian dicatat dalam sistem.

  • Sanksi keterlambatan: dikenakan denda harian sesuai aturan yang berlaku.

  • Koleksi referensi (kamus, ensiklopedia, skripsi, tesis) biasanya hanya bisa dibaca di tempat, tidak untuk dipinjam pulang.


5. Layanan Referensi dan Konsultasi

  • Pustakawan memberikan bimbingan literasi informasi, seperti cara mencari jurnal ilmiah, teknik sitasi, hingga penggunaan perangkat lunak manajemen referensi.

  • Layanan ini sangat membantu mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir atau penelitian.

  • Disediakan juga layanan tanya jawab terkait topik tertentu, baik langsung maupun melalui media digital (email, chat library).



6. Layanan Digital dan Elektronik

  • Perpustakaan UNUSA menyediakan akses ke berbagai basis data akademik dan jurnal elektronik.

  • Mahasiswa dapat login menggunakan akun kampus untuk mengakses dari dalam maupun luar kampus.

  • Tersedia koleksi e-book dalam berbagai bidang ilmu, sehingga mahasiswa tidak hanya bergantung pada koleksi cetak.

  • Beberapa layanan digital mendukung sistem remote access, sehingga mahasiswa bisa mengunduh artikel dan referensi kapan saja.


7. Fasilitas Pendukung

  • Ruang baca individu: untuk belajar mandiri dengan suasana tenang.

  • Ruang diskusi: disediakan untuk belajar kelompok atau bimbingan dosen.

  • Ruang multimedia: dilengkapi komputer, internet, dan perangkat untuk mengakses koleksi digital.

  • Akses Wi-Fi: gratis bagi seluruh anggota perpustakaan.

  • Loker dan penitipan barang: untuk kenyamanan pengguna.


8. Program Literasi dan Kegiatan

  • Perpustakaan secara rutin mengadakan pelatihan literasi informasi, seperti workshop penulisan ilmiah, manajemen referensi, dan etika publikasi.

  • Ada juga kegiatan bedah buku, seminar, dan pameran koleksi untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

  • Kerja sama dengan fakultas maupun lembaga eksternal dilakukan untuk memperluas sumber informasi dan layanan.


9. Alur Ringkas Penggunaan Layanan

  1. Masuk perpustakaan → scan kartu anggota / absensi.

  2. Menyimpan barang di loker.

  3. Menelusuri koleksi melalui OPAC.

  4. Meminjam buku di meja sirkulasi (atau akses e-resource melalui portal digital).

  5. Menggunakan ruang baca/diskusi sesuai kebutuhan.

  6. Mengembalikan buku tepat waktu.

  7. Memanfaatkan layanan referensi atau konsultasi bila diperlukan.


10. Kesimpulan

Alur penggunaan dan pelayanan perpustakaan UNUSA dirancang untuk mendukung kegiatan akademik secara menyeluruh, mulai dari tahap registrasi, pencarian koleksi, peminjaman, hingga pemanfaatan layanan digital. Fasilitas yang lengkap serta adanya bimbingan pustakawan membuat perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan buku, melainkan pusat pembelajaran modern. Dengan pemanfaatan yang optimal, mahasiswa, dosen, maupun peneliti dapat meningkatkan kualitas karya ilmiah sekaligus mengembangkan budaya literasi yang berkelanjutan.


3. Materi V

Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2024

Tema:

Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

📌 Ringkasan 

  1. Korupsi = penyakit bangsa.
    Dampaknya meluas ke infrastruktur, pendidikan, hukum, ekonomi, lingkungan, hingga HAM.

  2. Jenis-jenis korupsi yang dijelaskan:

    • Suap (bribery).

    • Gratifikasi (hadiah).

    • Pemerasan (extortion).

    • Perbuatan curang dalam pengadaan.

    • Konflik kepentingan.

    • Tindak pidana lain yang berkaitan (misalnya menghilangkan barang bukti).

  3. Efek korupsi:

    • Infrastruktur tidak awet, pendidikan gagal berkembang.

    • Keadilan diperjualbelikan.

    • Pasar menjadi inefisien.

    • Lingkungan rusak.

    • Muncul money laundering.

    • Negara berubah dari “melayani rakyat” menjadi “menindas rakyat.”

  4. Data kasus:
    Korupsi ada di semua wilayah (barat–timur, Jawa–non Jawa) dan di berbagai sektor: pendidikan, kesehatan, pajak, perikanan, pertahanan, infrastruktur, hingga perbankan.

  5. Poin moral:

    • Generasi pendahulu rela berkorban demi bangsa karena orientasi mereka pada Tuhan dan akhirat.

    • Koruptor modern justru mengorbankan orang lain demi diri sendiri.

    • Generasi muda harus membangun integritas dengan orientasi pengabdian, bukan kecintaan dunia.


1. Korupsi Sebagai Masalah Sistemik

  • Korupsi bukan sekadar extra money under the table, melainkan budaya yang merusak keadilan sosial.

  • Transparency International menempatkan Indonesia di skor 34/100 (2023) dalam Indeks Persepsi Korupsi → masih tergolong rendah.

  • Korupsi menyebabkan “biaya tinggi” dalam birokrasi, sehingga investor ragu masuk, pembangunan lambat, dan rakyat kecil yang paling dirugikan.

2. Dampak Nyata Korupsi

  • Ekonomi: harga barang/jasa pemerintah lebih mahal karena “mark-up”.

  • Hukum: hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah.

  • Lingkungan: izin tambang ilegal yang melahirkan bencana.

  • Pendidikan: dana BOS bocor, fasilitas sekolah terbengkalai.

  • Kesehatan: kasus korupsi bansos dan alat kesehatan saat pandemi COVID-19 → rakyat menderita.

3. Jenis-Jenis Korupsi (Dilengkapi Contoh)

  • Suap: pejabat menerima uang agar proyek bermasalah tetap lolos.

  • Gratifikasi: dokter menerima “hadiah” dari perusahaan farmasi agar meresepkan obat tertentu.

  • Pemerasan: pejabat menahan izin usaha yang sah hingga pemohon dipaksa membayar.

  • Konflik Kepentingan: kepala daerah memenangkan tender untuk perusahaan keluarganya.

  • Money Laundering: hasil korupsi dialihkan ke bisnis properti atau rekening luar negeri.

4. Faktor Penyebab Korupsi

  • Orientasi hidup materialistik (cinta dunia).

  • Lemahnya penegakan hukum.

  • Budaya permisif: masyarakat masih menganggap “uang rokok” wajar.

  • Sistem politik berbiaya tinggi: kandidat harus membeli suara → saat berkuasa ingin “balik modal.”

5. Strategi Pemberantasan

  • Pencegahan (preventif): pendidikan antikorupsi sejak dini, transparansi birokrasi, digitalisasi pelayanan publik.

  • Penindakan (represif): penguatan KPK, kejaksaan, kepolisian.

  • Perbaikan sistem politik: pembiayaan partai yang transparan, pengawasan pemilu.

  • Penguatan budaya integritas: keteladanan pemimpin, nilai agama, dan etika profesi.

6. Peran Generasi Muda

  • Mahasiswa sebagai agent of change harus menghidupkan budaya jujur dalam hal kecil: tidak mencontek, tidak beli ijazah, tidak “titip absen.”

  • Menolak gratifikasi sekecil apapun.

  • Menginternalisasi nilai agama: mencari ilmu untuk Allah, bukan sekadar dunia.

  • Mengarahkan profesi (dokter, perawat, guru, pejabat, pengusaha) sebagai sarana melayani masyarakat, bukan menghisap keuntungan.


✨ Kesimpulan 

Korupsi adalah akar dari banyak masalah bangsa: rusaknya hukum, mandeknya pembangunan, merosotnya kualitas SDM, dan hancurnya moral masyarakat. Ia bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Generasi muda, termasuk mahasiswa UNUSA yang menjadi audiens kuliah umum ini, ditantang untuk berbeda dari para koruptor:

  • Mengutamakan integritas di atas materi.

  • Menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah.

  • Menjadi tangan-tangan Tuhan untuk melayani sesama.

Hanya dengan generasi yang jujur, berani, dan berorientasi pada akhirat, Indonesia bisa keluar dari lingkaran setan korupsi.


4. Materi VI

KH Ma'ruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU Jawa Timur

Tema:

Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:


1.⁠ ⁠Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?


 Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.

 An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).

 Ciri Khas:

 Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).

 Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).

 Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).

 2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah


a. Penjaga Tradisi Keilmuan


 Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.

 Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.

 b. Agen Moderasi Beragama


 Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:

 Menolak radikalisme dan ekstremisme.

 Membangun dialog antaragama dan budaya.

 Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).

 c. Pejuang Kemaslahatan Sosial


 Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:

 Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).

 Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).

 Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.

 d. Inovator dalam Tradisi  Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:

 Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam.

 Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja.

 Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.

 3. Implementasi di Kampus UNUSA

 Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.

 Kegiatan Kemahasiswaan:

 Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.

 Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.

 Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.

 Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.

 4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah

 Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.

 Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.

 Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.

 5. Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"

Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk:

 Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi.

 Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat.

 Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.

 Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNusa adalah garda terdepan dalam misi ini.



5.Materi VII

Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes. - Kaprodi D4 K3

Tema:

Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) di Perguruan Tinggi

K3L adalah singkatan dari Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan. Ini merupakan sebuah pendekatan terintegrasi dan holistik dalam mengelola risiko di tempat kerja dan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan utama:


 Keselamatan (Safety): Melindungi pekerja dari kecelakaan, cedera, dan kematian akibat kerja. Fokus pada pencegahan bahaya fisik (misal: jatuh, tersengat listrik, terjepit mesin).

 Kesehatan Kerja (Occupational Health): Melindungi pekerja dari penyakit akibat kerja (misal: penyakit paru akibat debu, gangguan pendengaran akibat kebisingan, stres kerja) serta mempromosikan kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja.

 Lingkungan (Environment): Melindungi lingkungan kerja dan sekitarnya dari pencemaran, kerusakan, dan pemborosan sumber daya akibat aktivitas perusahaan. Fokus pada pengelolaan limbah, penghematan energi, pengendalian emisi, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

 Prinsip Utama K3L:


 Pencegahan (Prevention): Mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya sebelum terjadi kecelakaan, penyakit, atau kerusakan lingkungan.

 Keterlibatan (Participation): Semua pihak (manajemen, pekerja, serikat pekerja, kontraktor, masyarakat) terlibat aktif dalam implementasi K3L.

 Kepatuhan (Compliance): Mematuhi semua peraturan perundang-undangan K3L yang berlaku (nasional & internasional).

 Peningkatan Berkelanjutan (Continuous Improvement): Selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem K3L secara terus-menerus.

 Akuntabilitas (Accountability): Setiap tingkatan dalam organisasi bertanggung jawab atas K3L.

 Mengapa K3L Sangat Penting untuk Perwujudan Indonesia Emas 2045?


Visi Indonesia Emas 2045 adalah menjadi negara maju dengan kesejahteraan yang merata, ekonomi kuat, dan sumber daya manusia (SDM) unggul. K3L bukan sekadar "aturan teknis", melainkan fondasi kritis untuk mencapai visi ini. Berikut alasannya:


 Menghasilkan SDM Unggul dan Sehat:

 Pekerja Sehat = Produktif: Pekerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih produktif, kreatif, dan inovatif. K3L mencegah penyakit akibat kerja yang mengurangi angkatan kerja produktif dan membebani sistem kesehatan.

 Pekerja Aman = Motivasi Tinggi: Lingkungan kerja yang aman meningkatkan kepercayaan diri, motivasi, dan loyalitas pekerja. Ini mengurangi turnover dan meningkatkan kualitas kerja.

 Bekal untuk Generasi Emas: Anak muda (calon pekerja masa depan) perlu tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan belajar budaya K3L sejak dini untuk menjadi SDM yang kompeten dan bertanggung jawab.

 Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan dan Kompetitif:

 Efisiensi Operasional: K3L yang baik mengurangi biaya akibat kecelakaan kerja (pengobatan, kompensasi, penggantian alat), downtime produksi, dan kerusakan properti. Investasi di K3L seringkali memberikan ROI (Return on Investment) yang tinggi.

 Daya Saing Global: Pasar internasional dan investor global semakin menuntut standar K3L yang tinggi. Perusahaan Indonesia yang memenuhi standar K3L internasional (seperti ISO 45001, ISO 14001) akan lebih mudah menembus pasar ekspor dan menarik investasi berkualitas.

 Inovasi Hijau: Prinsip K3L mendorong inovasi dalam penggunaan teknologi ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengelolaan sumber daya, yang merupakan kunci ekonomi hijau dan berkelanjutan.

 Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Alam dan Lingkungan:

 Indonesia Emas Tidak Boleh "Habis Emasnya": Visi 2045 membutuhkan sumber daya alam (SDA) yang lestari. K3L memastikan eksploitasi SDA (mineral, kelapa sawit, dll) dilakukan secara bertanggung jawab, meminimalkan kerusakan ekosistem, dan memulihkan lingkungan.

 Mengurangi Dampak Perubahan Iklim: Pengelolaan limbah, pengendalian emisi, dan penghematan energi dalam K3L berkontribusi langsung pada upaya mitigasi perubahan iklim, yang merupakan ancaman serius bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

 Kualitas Hidup Masyarakat: Lingkungan yang bersih dan sehat (hasil penerapan K3L) meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat, bukan hanya pekerja, menciptakan lingkungan yang layak untuk generasi masa depan.

 Membangun Tata Kelola yang Baik dan Keadilan Sosial:

 Kepatuhan Hukum dan Etika: Implementasi K3L yang serius menunjukkan komitmen perusahaan dan negara terhadap hukum dan etika bisnis yang bertanggung jawab.

 Perlindungan Hak Pekerja: K3L adalah wujud nyata perlindungan hak asasi pekerja untuk bekerja dalam kondisi yang aman dan sehat, sesuai sila ke-5 Pancasila (Keadilan Sosial).

 Mengurangi Ketimpangan: K3L membantu melindungi pekerja di sektor informal dan UMKM yang seringkali paling rentan terhadap bahaya kerja, menuju pembangunan yang lebih inklusif.

 Tantangan dan Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas melalui K3L:


 Tantangan:

 Pemahaman dan komitmen K3L yang belum merata di semua level (pemerintah, perusahaan, pekerja).

 Pengawasan dan penegakan hukum K3L yang masih lemah di beberapa sektor dan daerah.

 Keterbatasan sumber daya (dana, tenaga ahli K3L) terutama di UMKM dan sektor informal.

 Budaya K3L yang belum mengakar kuat di beberapa lini masyarakat dan industri.

 Langkah Strategis:

 Pemerintah: Memperkuat regulasi, pengawasan, dan insentif untuk K3L; Integrasikan K3L dalam kurikulum pendidikan; Kampanye nasional tentang pentingnya K3L.

 Perusahaan: Jadikan K3L sebagai nilai inti dan investasi strategis; Terapkan sistem manajemen K3L (SMK3 & SML); Berikan pelatihan dan perlengkapan K3L yang memadai; Libatkan pekerja aktif.

 Pekerja/Masyarakat: Tingkatkan kesadaran dan pengetahuan K3L; Gunakan hak dan laksanakan kewajiban K3L; Laporkan pelanggaran dan kondisi berbahaya.

 Pendidikan: Masukkan materi K3L dalam pendidikan formal dan vokasi sejak dini.

 Kolaborasi: Sinergi antara pemerintah, swasta, serikat pekerja, akademisi, dan masyarakat.

 Kesimpulan:


K3L bukanlah beban biaya, melainkan investasi strategis yang sangat menguntungkan bagi jangka pendek (efisiensi, produktivitas) dan jangka panjang (keberlanjutan, daya saing global). Implementasi K3L yang kuat dan konsisten di seluruh sektor pembangunan adalah syarat mutlak untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. K3L akan menghasilkan SDM unggul yang sehat, aman, dan produktif; mendorong ekonomi yang kompetitif dan berkelanjutan; menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam; serta membangun tata kelola yang adil. Tanpa fondasi K3L yang kokoh, visi Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera pada 2045 akan sulit tercapai. Mari jadikan K3L sebagai budaya bangsa untuk meraih Indonesia Emas yang sesungguhnya!


6. Materi VI

KH Ma'ruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU Jawa Timur

Tema:

Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah

1. Pendahuluan

Ceramah ini diawali dengan pembahasan sejarah munculnya berbagai aliran dalam Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW, seperti Syiah, Khawarij, Murji’ah, Qadariyah, dan lain-lain. Sesuai prediksi Nabi, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, namun yang selamat hanyalah golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Oleh sebab itu, penting bagi umat Islam—khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU)—untuk memahami dan mengamalkan ajaran Aswaja secara benar.


2. Makna Ahlus Sunnah wal Jamaah

  • Ahlun berarti pengikut.

  • Al-jama’ah dimaknai sebagai umat Islam secara umum atau kelompok mayoritas (as-sawadul a‘zham).

  • Sunnah dalam pemahaman Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bukan sekadar sunnah dalam arti hadis atau hukum fikih, melainkan metode beragama yang dijalankan Nabi, para sahabat, serta imam mazhab.


3. Aswaja Menurut NU

NU memahami Aswaja sebagai:

  • Dalam akidah: mengikuti ajaran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

  • Dalam fikih: mengikuti salah satu dari empat mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali).

  • Dalam tasawuf: mengikuti ajaran Imam al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.

Tiga pilar inilah yang menjadi ciri khas NU dibanding kelompok lain.


4. Prinsip dan Sikap NU

Warga NU diajarkan untuk memiliki karakter sebagai berikut:

  1. Tawasuth (moderat): tidak berlebihan, tidak ekstrem kanan maupun kiri.

  2. Tawazun (seimbang): menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, teks dan konteks.

  3. Tasamuh (toleransi): menghargai perbedaan, termasuk dengan non-Muslim.

  4. I’tidal (adil): menempatkan sesuatu secara proporsional.

Dengan prinsip ini, NU berusaha menjadi pengayom, menjaga persatuan, dan menolak sikap radikal.


5. Amaliah Khas Warga NU

Beberapa praktik keagamaan yang menjadi identitas NU antara lain:

  • Shalat Subuh dengan Qunut → berdasarkan dalil dari sahabat Anas bin Malik.

  • Yasinan dan tahlilan → sebagai bentuk doa untuk orang tua, guru, dan kerabat yang telah wafat.

  • Ziarah kubur → mengingatkan pada kematian sekaligus mendoakan ahli kubur.

  • Shalawatan → memuji Nabi dengan berbagai redaksi, sebagaimana dicontohkan sahabat dan ulama.

  • Berkatan atau sedekahan → tradisi memberi makanan sebagai bentuk doa dan sedekah.

Amaliah tersebut seringkali diperdebatkan, tetapi NU menegaskan bahwa semuanya memiliki dasar dari Al-Qur’an, hadis, atau praktik ulama salaf.


6. NU dan Cinta Tanah Air

Selain menjaga tradisi Aswaja, NU juga menekankan hubungan erat antara agama dan kebangsaan.

  • Dalil cinta tanah air diambil dari doa Nabi agar umatnya mencintai Madinah sebagaimana mencintai Makkah.

  • KH. Hasyim Asy’ari melalui resolusi jihad 1945 menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.

  • Doktrin hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) telah mengakar dalam tradisi NU.

Peran ulama NU terbukti saat perjuangan kemerdekaan, di mana kiai-kiai dan santri menjadi garda terdepan dalam melawan penjajah.


7. Pesan Penutup

Ceramah menekankan bahwa:

  • Menjadi NU bukan sekadar identitas, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir moderat, toleran, dan cinta damai.

  • Amaliah NU memiliki landasan kuat dan berfungsi memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

  • Cinta tanah air harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, merawat lingkungan, dan berkontribusi membangun bangsa.


8. Pengayaan Materi

Untuk memperluas pemahaman, ada beberapa poin tambahan:

  • Kontekstualisasi Aswaja di era modern: NU menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan munculnya ideologi transnasional. Prinsip moderasi agama menjadi sangat relevan.

  • Aswaja sebagai fondasi pendidikan: Perguruan tinggi NU, termasuk UNUSA, menanamkan nilai Aswaja agar mahasiswa menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan nasionalis.

  • Peran mahasiswa: tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjaga tradisi Aswaja serta ikut membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.


📌 Kesimpulan:
pentingnya memahami Ahlus Sunnah wal Jamaah, menjaga amaliah NU, mengamalkan sikap moderat dan toleran, serta memadukan nilai agama dengan cinta tanah air. Semua itu diharapkan dapat melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menjadi rahmatan lil-‘alamin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

resume materi pkkmb dhaawii ghathfan fayadh

PERMASALAHAN YANG PERNAH SAYA HADAPI DAN CARA MENGATASINYA