resume materi hari ke 4 dhaawii
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
RESUME MATERI
HARI KE 4
NAMA : DHAAWII GHATHFAN FAYADH
PRODI : S1 KEPERAWATAN
Resume Materi: Personal Branding
Materi ini membahas pentingnya personal branding bagi mahasiswa, khususnya di bidang keperawatan. Personal branding adalah cara membangun citra diri agar berbeda dengan orang lain, sehingga dikenal dan diingat karena nilai atau keunikan tertentu.
Contoh Praktik Personal Branding
-
Rian Winalda: perawat yang aktif berbagi cerita dan fenomena di rumah sakit melalui media sosial.
-
Zafira Octaviana: perawat yang membangun citra lewat konten edukasi keperawatan.
-
Mas Nansi: perawat yang lebih fokus pada isu sosial dan kemanusiaan, bukan keperawatan murni.
-
SPBU (Spesialis Bedah Umum): perawat yang dikenal di ruang operasi dengan branding khasnya.
Mereka menunjukkan bahwa personal branding bisa dibentuk lewat jalur yang berbeda sesuai minat.
Pentingnya Personal Branding
-
Bisa dimulai sejak masih kuliah melalui kegiatan, organisasi, atau karya.
-
Aktivitas selama kuliah akan terekam sebagai portofolio yang bermanfaat saat melamar kerja.
-
Branding membantu membedakan diri dari orang lain dengan kompetensi yang unik.
Cara Membangun Personal Branding
-
Tentukan audiens – siapa yang ingin dituju (rekruter, masyarakat umum, komunitas profesional).
-
Temukan keunikan – apa yang membedakan diri dari orang lain (nilai, keterampilan, atau pengalaman).
-
Bangun reputasi – konsistensi dalam aktivitas, karya, atau konten yang dibagikan.
-
Bangun jaringan – aktif mengikuti kegiatan, organisasi, atau komunitas agar dikenal lebih luas.
-
Konsistensi – jaga agar citra yang dibangun tetap sejalan, tidak berubah-ubah sesuai tren.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
-
Tidak konsisten dalam pesan atau citra diri.
-
Terlalu fokus pada diri sendiri, bukan nilai yang ditawarkan.
-
Tidak memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mendukung branding.
Penutup
Personal branding bukan hanya tentang pencitraan, melainkan membangun reputasi melalui pengalaman, karya, dan nilai yang dibawa. Mahasiswa sudah bisa memulainya sejak awal kuliah agar punya portofolio dan citra diri yang kuat ketika terjun ke dunia kerja.
Resume Materi: PPNI dan Organisasi Profesi Keperawatan
1. Latar Belakang
Materi dibawakan oleh seorang narasumber yang merupakan alumni Unusa dan saat ini menjabat sebagai Ketua PPNI Kota Surabaya. Topik utama adalah pengenalan organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) serta peran pentingnya bagi mahasiswa calon perawat.
2. Pelajaran dari Pandemi COVID-19
Beberapa hikmah yang bisa diambil dari pengalaman pandemi:
-
Hidup itu singkat – setiap saat kita bisa dipanggil, tanpa mengenal usia.
-
Pekerjaan bukan jaminan – apapun profesinya, tidak menjamin kebahagiaan; yang penting adalah nilai dan manfaat dari pekerjaan.
-
Kesehatan adalah kekayaan sejati – harta tidak berarti apa-apa tanpa kesehatan.
-
Perlu cadangan keuangan – agar siap menghadapi kondisi sulit.
-
Tuhan tempat bersandar – semua usaha manusia pada akhirnya kembali kepada kehendak-Nya.
3. Sejarah dan Struktur PPNI
-
Didirikan: 17 Maret 1974 melalui penyatuan berbagai organisasi keperawatan.
-
Nama: Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
-
Struktur:
-
Dewan Pengurus Pusat (DPP) – berkedudukan di Jakarta.
-
Dewan Pengurus Wilayah (DPW) – di tingkat provinsi.
-
Dewan Pengurus Daerah (DPD) – di tingkat kabupaten/kota.
-
Dewan Pengurus Komisariat (DPK) – di rumah sakit atau institusi pendidikan.
-
-
Jaringan Internasional: sejak 2003 menjadi anggota ICN (International Council of Nurses).
-
Anggota: praktisi (perawat klinis), pendidik (dosen), tokoh masyarakat, bahkan anggota DPR/DPRD.
4. Makna Logo PPNI
-
Bentuk lingkaran: kesatuan perawat di seluruh Indonesia.
-
Lima sudut segilima: berjiwa Pancasila.
-
Lampu dengan lidah api: simbol penerang dan pengabdian tulus.
-
Warna putih: kesucian niat dan cinta kasih.
-
Warna hijau: kedamaian dan kesejahteraan.
5. Visi dan Misi PPNI
-
Visi: menjadi organisasi profesi yang dicintai anggota, dipercaya pemerintah, dan dihormati masyarakat.
-
Misi:
-
Memperkuat kepengurusan dari pusat hingga komisariat.
-
Mengutamakan kepentingan anggota (SDR, SIP, perlindungan hukum).
-
Membangun jejaring luas dengan pemerintah dan mitra lainnya.
-
Mengembangkan keilmuan dan keterampilan perawat.
-
Memberikan perlindungan hukum dan advokasi bagi anggota.
-
6. Peran dan Fungsi PPNI
-
Pembina: membimbing anggota dalam mengembangkan kompetensi.
-
Pemersatu: menyatukan seluruh perawat dari berbagai spesialisasi.
-
Pengembang: terus mendorong inovasi dan keilmuan di bidang keperawatan.
-
Pengawas: mengawasi praktik anggota agar sesuai kode etik dan standar.
7. Program dan Kegiatan PPNI
-
Standarisasi: mengawal standar kompetensi, praktik, dan pendidikan keperawatan.
-
Kode Etik: memastikan perawat mematuhi etika profesi.
-
CPD (Continuing Professional Development): pembelajaran berkelanjutan, pelatihan, workshop.
-
Advokasi: memperjuangkan undang-undang keperawatan, perda tentang perawat, serta perlindungan hukum.
-
Bantuan Hukum: menyediakan advokasi gratis bagi anggota yang tersandung masalah hukum.
-
Pengembangan Karier: membuka peluang bagi perawat di berbagai bidang (klinis, manajemen, bahkan politik).
8. Ikatan dan Himpunan di Bawah PPNI
PPNI menaungi berbagai ikatan keperawatan spesialis, misalnya:
-
Keperawatan gawat darurat.
-
Keperawatan anak.
-
Keperawatan jiwa.
-
Keperawatan komunitas.
-
Keperawatan medikal bedah.
-
Keperawatan onkologi, maternitas, dan lain-lain.
Masing-masing ikatan bertugas mengembangkan standar pelatihan, kompetensi, serta penelitian sesuai bidangnya.
9. Kolegium Keperawatan
-
Awalnya dibentuk oleh PPNI, kini diakui sebagai bagian dari pemerintah.
-
Berfungsi mengembangkan pendidikan, kurikulum, dan standar profesi keperawatan.
-
Membantu pengawasan mutu pendidikan perawat di Indonesia.
10. Perlindungan Profesi
-
PPNI memberikan jaminan hukum bagi perawat yang menjalankan praktik sesuai SOP.
-
Menyediakan Badan Bantuan Hukum untuk anggota yang menghadapi kasus.
-
Menjadi saksi ahli dalam kasus hukum yang melibatkan tenaga perawat.
11. Perkembangan Pendidikan dan Karier
-
Pendidikan keperawatan di Indonesia kini berjenjang: D3, S1 Ners, S2 Spesialis, hingga Doktoral dan Profesor.
-
Perawat kini multitalenta: tidak hanya bekerja di rumah sakit, tetapi juga bisa menjadi pejabat, kepala puskesmas, anggota DPR, akademisi, peneliti, bahkan influencer kesehatan.
12. Penutup
PPNI bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar bagi seluruh perawat Indonesia. Fungsinya meliputi pembinaan, pengembangan, pengawasan, hingga perlindungan hukum bagi anggota. Dengan PPNI, profesi perawat memiliki wadah resmi untuk terus berkembang, bersatu, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Resume Materi PKKMB – Empowering with Vision
1. Sambutan dan Pengantar
-
Materi dibawakan oleh Ibu Yanis Kartini, dosen S1 Keperawatan sekaligus Ketua Program Studi.
-
Acara ditujukan untuk mahasiswa baru, baik jalur reguler maupun RPL.
-
Tema PKKMB 2025/2026 adalah “Empowering with Vision: Value-Driven Innovation for Sustainable Future.”
2. Makna Tema PKKMB
-
Empowering with Vision artinya mahasiswa sejak awal diberdayakan untuk memahami arah dan tujuan kuliah, bukan sekadar diperkenalkan dengan suasana kampus.
-
Mahasiswa perlu menyadari:
-
Tujuan mereka masuk UNUSA.
-
Cita-cita untuk menjadi perawat profesional.
-
Peran nyata yang kelak diberikan bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
-
-
Visi ini mengajarkan agar mahasiswa tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi juga menatap masa depan dengan nilai-nilai luhur.
3. Nilai-Nilai yang Harus Dipegang Perawat
Mahasiswa keperawatan diharapkan menanamkan nilai-nilai dasar berikut:
-
Kejujuran dan integritas.
-
Tanggung jawab dan kedisiplinan.
-
Sikap peduli (caring).
-
Jiwa Islami yang penuh kasih sayang.
Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar inovasi. Inovasi tidak boleh lepas dari etika, kemanusiaan, dan identitas Islami.
4. Keterkaitan dengan Visi Program Studi
Visi Prodi S1 Keperawatan UNUSA adalah:
-
Menjadi lembaga pendidikan keperawatan yang menghasilkan lulusan unggul di tingkat ASEAN, berfokus pada keperawatan komunitas, memiliki jiwa wirausaha, dan berjati diri Islami.
Keterkaitan dengan PKKMB:
-
Sejak awal mahasiswa diarahkan untuk menginternalisasi visi ini.
-
Mahasiswa tidak hanya dituntut kompeten, tetapi juga visioner, kreatif, serta mampu menjawab tantangan global.
-
Tetap berpijak pada nilai Islami dan karakter perawat Indonesia.
5. Konsep Value-Driven Innovation
-
Innovation: mahasiswa didorong untuk melakukan pembaruan dalam praktik maupun pemikiran keperawatan.
-
Value-Driven: inovasi tersebut harus berlandaskan nilai – bukan hanya sekadar teknis.
-
Inovasi yang dimaksud:
-
Bisa berupa layanan baru, metode asuhan, penelitian, maupun program pemberdayaan.
-
Harus berkelanjutan, bermanfaat nyata bagi masyarakat.
-
-
Contoh: program keperawatan komunitas yang menekankan peningkatan kesehatan dan kemandirian masyarakat.
6. Aspek Akademik dan Karakter
-
Pendidikan di UNUSA tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis.
-
Mahasiswa juga dibina karakternya melalui:
-
Pembinaan sikap Islami.
-
Penekanan pada etika profesi.
-
Kegiatan kemahasiswaan untuk mengasah kepemimpinan.
-
-
Tujuannya agar mahasiswa menjadi perawat profesional yang berilmu, beretika, berakhlak mulia, dan peduli pada sesama.
7. Peran Wirausaha dalam Keperawatan
-
Program studi menekankan jiwa wirausaha di bidang keperawatan komunitas.
-
Mahasiswa diharapkan memiliki kreativitas dan daya saing, tidak hanya sebagai tenaga kesehatan, tapi juga sebagai pencipta peluang kerja.
-
Contoh: membuka layanan home care, klinik keperawatan mandiri, atau mengembangkan produk/teknologi kesehatan berbasis komunitas.
8. Kontribusi Bagi Masyarakat
-
Lulusan diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan kesehatan masyarakat.
-
Keperawatan komunitas menjadi inti dari keberlanjutan kesehatan, karena fokus pada:
-
Pencegahan penyakit.
-
Promosi kesehatan.
-
Kemandirian keluarga dan masyarakat.
-
9. Misi Program Studi (Ringkas)
-
Melaksanakan pendidikan keperawatan yang menekankan penelitian dan pemecahan masalah secara komprehensif, terbuka, dan santun.
-
Melaksanakan pengabdian berbasis komunitas untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kualitas hidup masyarakat.
-
Mengembangkan penelitian keperawatan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan nyata.
10. Penutup
PKKMB bukan sekadar pengenalan kampus, melainkan titik awal pemberdayaan mahasiswa.
Dengan visi, nilai, dan inovasi yang berkelanjutan, mahasiswa keperawatan UNUSA dipersiapkan untuk:
-
Menjadi perawat profesional yang unggul.
-
Menjaga identitas Islami.
-
Memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat, bangsa, dan dunia.
Resume Materi: Etika Komunikasi, Media Sosial, dan Budaya Akademik
1. Pendahuluan
-
Materi membahas pentingnya komunikasi yang beretika, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
-
Media sosial sudah menjadi bagian hidup hampir semua orang, termasuk mahasiswa. Melalui media sosial kita bisa berbagi ide, karya, atau informasi, tetapi ada batasan etis yang perlu diperhatikan.
2. Etika dalam Bermedia Sosial
-
Media sosial bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga cermin kepribadian.
-
Ada hal-hal yang tidak pantas dibagikan, misalnya:
-
Konten kekerasan.
-
Pornografi.
-
Ujaran kebencian.
-
-
Mahasiswa perlu hati-hati karena jejak digital dapat memengaruhi reputasi di masa depan.
3. Tren Mahasiswa dan Tantangan Etika
-
Penelitian menunjukkan adanya penurunan etika mahasiswa saat berinteraksi dengan dosen.
-
Dulu mahasiswa lebih patuh, kini mahasiswa lebih kritis, banyak berargumen, sering beralasan panjang ketika melanggar aturan.
-
Sisi positif: mahasiswa zaman sekarang lebih berani menyampaikan pendapat karena terbiasa dengan arus informasi dari media sosial.
-
Sisi negatif: kadang terlihat kurang menghargai dosen atau aturan kampus.
4. Pentingnya Sopan Santun (Politeness)
-
Dalam Islam dikenal prinsip adab sebelum ilmu.
-
Sopan santun dapat meminimalkan konflik dan membuat komunikasi lebih lancar.
-
Mahasiswa yang beretika akan lebih dihargai, tidak hanya oleh dosen tapi juga oleh teman dan lingkungan.
5. Norma, Nilai, dan Budaya
-
Norma: bukan soal benar atau salah, tetapi pantas atau tidak pantas.
-
Contoh: dosen pakai pakaian terbuka, secara hukum tidak salah, tetapi secara norma dianggap tidak pantas.
-
-
Nilai: standar yang dijunjung tinggi, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
-
Budaya: kebiasaan sehari-hari yang akhirnya membentuk karakter.
6. Civitas Akademika
-
Lingkungan kampus terdiri dari mahasiswa, dosen, staf administrasi, OB, satpam, hingga juru parkir.
-
Semua bagian ini mendukung kegiatan belajar-mengajar. Karena itu, etika harus dijaga kepada semua, bukan hanya dosen.
7. Budaya Akademik di Kampus
-
Budaya Akademik: kebiasaan dalam perkuliahan, diskusi, belajar, dan mengajar.
-
Budaya Intelektual: kebiasaan mencari informasi dan ilmu baru, misalnya membaca jurnal setiap hari.
-
Budaya Kritis: mahasiswa diajak untuk selalu bertanya “mengapa” sebelum melakukan sesuatu, agar tidak sekadar ikut-ikutan.
-
Budaya Inovatif: mahasiswa sebagai agen perubahan harus berani membuat sesuatu yang baru, misalnya memanfaatkan aplikasi kesehatan.
-
Budaya Teknologi: menggunakan teknologi untuk mempermudah belajar (e-book, aplikasi, dll).
-
Budaya Bersih: menjaga lingkungan, mengurangi plastik, dan sadar akan isu global seperti climate change.
8. Long Life Learning (Belajar Seumur Hidup)
-
Belajar tidak berhenti setelah kuliah.
-
Ilmu selalu berkembang, maka mahasiswa perlu membiasakan diri untuk terus menambah wawasan dari berbagai sumber.
-
Belajar tidak hanya melalui kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan kehidupan sehari-hari.
9. Pentingnya Attitude
-
IPK tinggi tanpa attitude baik tidak ada artinya.
-
Dunia kerja menilai bukan hanya kecerdasan, tetapi juga sikap dan perilaku.
-
Lima hal sederhana yang mencerminkan attitude:
-
Senyum.
-
Salam.
-
Sapa.
-
Sopan.
-
Santun.
-
10. Penutup
Mahasiswa perlu menyadari bahwa:
-
Etika komunikasi adalah dasar dari hubungan yang sehat, baik di kampus maupun di dunia kerja.
-
Media sosial bisa menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga bisa merusak reputasi jika tidak bijak digunakan.
-
Budaya akademik, kritis, inovatif, dan sikap belajar sepanjang hayat harus ditanamkan sejak awal kuliah.
-
Attitude adalah kunci utama yang akan membedakan seorang mahasiswa biasa dengan calon perawat profesional yang disegani.
Resume Materi: Motivasi Belajar dan Peran Mahasiswa
1. Riwayat Singkat Narasumber
-
Narasumber menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan pada tahun 2011–2015.
-
Melanjutkan S2 di Fakultas Keperawatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (2016–2018).
-
Mengampu beberapa mata kuliah penting, antara lain:
-
Keperawatan Medikal Bedah.
-
Palliative Care.
-
Keperawatan Sosial dan Budaya.
-
Etika Profesi Keperawatan.
-
Teori Keperawatan.
-
Praktik Keperawatan Medikal Bedah.
-
2. Pentingnya Motivasi (Motosas)
-
Kata “motosas” dimaknai sebagai semangat atau dorongan dari dalam diri.
-
Motivasi ibarat bahan bakar yang membuat mahasiswa tetap bergerak mencapai tujuan.
-
Di awal semester biasanya semangat masih besar, tetapi sering kali menurun di tengah perjalanan. Karena itu mahasiswa perlu menjaga konsistensi motivasi sampai lulus.
Fungsi motivasi:
-
Sebagai penggerak utama – mendorong mahasiswa terus maju.
-
Sebagai penentu arah – mengingatkan kembali tujuan yang ingin dicapai.
-
Sebagai penopang daya tahan – agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
-
Sebagai pemacu prestasi – membantu mahasiswa mencapai hasil belajar maksimal.
3. Tantangan Mahasiswa Baru
-
Mahasiswa yang baru masuk sering mengalami culture shock karena harus menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan yang berbeda dengan SMA/SMK.
-
Di semester awal masih penuh semangat, tapi di semester pertengahan sering muncul rasa jenuh, malas, atau bahkan putus asa.
-
Penting untuk menjaga motivasi agar tetap konsisten.
4. Strategi Menjaga Motivasi
-
Tetapkan tujuan yang jelas – misalnya ingin menjadi perawat profesional, lulus tepat waktu, atau melanjutkan studi.
-
Belajar bersama – diskusi kelompok bisa membuat suasana belajar lebih menyenangkan.
-
Mengulang materi secara praktik – contoh: latihan memasang infus di luar jam kuliah bersama teman.
-
Buat kebiasaan positif – belajar rutin, aktif bertanya, dan disiplin waktu.
-
Gunakan pengalaman klinik sebagai motivasi – setiap praktik bertemu pasien bisa jadi pelajaran berharga.
-
Jangan takut gagal – kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
5. Pentingnya Kolaborasi
-
Mahasiswa tidak bisa belajar sendiri. Harus ada kerjasama, gotong royong, dan dukungan dari teman-teman.
-
Belajar kelompok memudahkan memahami materi yang sulit, misalnya praktik keterampilan dasar.
-
Dengan kolaborasi, rasa bosan dan malas bisa ditekan karena ada dorongan dari teman sebaya.
6. Sikap dalam Menghadapi Tantangan
-
Mahasiswa perlu percaya diri dan berani mencoba.
-
Jangan sembunyi dari masalah, tetapi hadapi dengan strategi.
-
Kembangkan sikap optimis: setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
-
Perlu diingat, attitude sama pentingnya dengan ilmu. Perilaku sopan, disiplin, dan tanggung jawab akan membuat mahasiswa lebih dihargai.
7. Makna Pengalaman Praktik
-
Saat praktik klinik, mahasiswa akan menghadapi pasien dengan berbagai kondisi.
-
Setiap pengalaman itu bisa menjadi motivasi untuk terus belajar, karena pasien juga menaruh harapan pada tenaga kesehatan.
-
Dengan sikap peduli dan tanggung jawab, mahasiswa bisa membangun karakter sebagai calon perawat yang profesional.
8. Kesimpulan
-
Motivasi adalah kunci utama keberhasilan studi. Tanpa motivasi, potensi mahasiswa tidak akan berkembang maksimal.
-
Menjaga motivasi butuh strategi: menetapkan tujuan, belajar kelompok, membangun kebiasaan positif, dan berani mencoba.
-
Tantangan pasti ada, tetapi dengan sikap percaya diri, disiplin, dan kerja sama, mahasiswa bisa melewatinya.
-
Pada akhirnya, motivasi yang kuat akan mengantarkan mahasiswa menjadi perawat profesional yang berilmu, beretika, dan bermanfaat bagi masyarakat.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar